On Choosing

I’m 25. And I’m in a good age to be confused by life.

Beberapa bulan terakhir ini saya sering ‘galau’ tentang masa depan. Ada beberapa pertanyaan yang mengusik, misalnya;

  • What is my career goal(s)?
  • How would I achieve it realistically?
  • Do I need backup plan?
  • When am I gonna get married?
  • How would we compromise our dream each other?

Berbicara tentang career goal bukanlah hal mudah, terlebih karena saya pribadi memiliki ketertarikan akan banyak hal. Saya suka programming dan problem solving. Saya sangat suka mengajar dan berbagi. Saya tertarik dengan dunia bisnis dan startup, saat ini sudah ada 2 ide bisnis yang sedang saya garap prototypenya. Akhir-akhir ini saya juga tertarik di dunia public speaking dan effective communication. Dan satu lagi, saya suka dunia literacy. Duh! Apa yang salah disini? Bagaimana saya memutuskan karir mana yang bagus untuk saya, dan untuk keluarga saya kelak?

Bagi saya memiliki karir yang baik dan fulfilling sama pentingnya dengan membangun keluarga yang harmonis. Saya akan menghabiskan minimal sepertiga dari waktu saya untuk karir. Saya ingin setiap hari bangun pagi dengan semangat membayangkan hal-hal menarik apa yang akan saya kerjakan, dan pulang kerumah dengan rasa senang bertemu dengan istri dan anak-anak. Memiliki karir yang baik besar dampaknya terhadap keharmonisan rumah tangga.

Saya tipe orang yang ingin istri saya kelak bisa mencapai keinginan dan mimpi-mimpinya, tanpa harus melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu. Saya ingin dia juga memiliki karir yang bagus, apapun itu pilihannya. Sehingga ini bukan cuma tentang saya, ini tentang kita. Saya percaya bahwa karir adalah marathon dan bukan sprint. Di usia 25 ini, saya sudah membayangkan akan ada usia-usia emas dalam karir, seperti usia 30 yang sudah seharusnya memilih satu bidang expertise tertentu, usia 35 saat dimana saya semakin matang dan berpengalaman, usia 40 dimana saya yakin adalah usia emas untuk menjadi seorang leader dan mentor, usia 50 adalah usia seorang leader mencapai puncak wisdom, kemudian akan ada usia 60, 70 dan seterusnya. Hal-hal tadi mungkin terdengar oversimplified, artinya tidak menutup kemungkinan saat usia 40 saya berpindah karir, tapi itu adalah buah dari proses berpikir saat nanti.

I think I’m overthought about future. I better rest now. And I’m feeling a bit better after writing it down here, at least it doesn’t sound as bad as I thought it was.

Cheers!

3 thoughts on “On Choosing

  1. Normal sih overthought about future apalagi km ntar jd pemimpin kluarga. Tp bisa gt ya… Banyak banget yg disukain, aku malah kebalik, nggak tau apa yg bener2 disuka. Cuma ngelakuin yg hrs dilakuin aja. Apapun itu semoga dilancarkan untuk mrealisasikan setiap planning kedepannya.

    Like

    1. Aamiin makasih dit hehe. Sukses jg masternya. ITB gak beda2 bgt kok sama IPB, bedanya paling di ITB diajarin mindset gimana cara belajar sendiri.

      Pasti ada hal yg disuka dit. Emang butuh waktu sih, sering refleksi ke diri sendiri, explore hal2 baru, nanti evaluasi lagi.

      Like

      1. Makasih Jang. Semoga aku bs lulus secara legal dan tepat waktu di sini. Keteteran bgt aku blajarnya wkwkwk. Udah sering sih ngobrol sm diri sendiri tp belum nemu apa yg disuka. Mungkin bntar lg kayaknya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s