Let’s Talk about Imposture Syndrome

NUS
Source: Todayonline

Bulan Mei lalu berita yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga, saya berhasil diterima di program Master of Science in Computer Science, School of Computing NUS. Nampaknya saya bisa meyakinkan dewan admission NUS bahwa saya akan bisa thrive di program S2 CS meskipun dengan latar belakang S1 EE dan 2 tahun pengalaman kerja. Layaknya semua berita baik, semuanya terasa berjalan cepat dan kemudian menjadi biasa saja. Mengutip Andre Agassi, a win doesn’t feel as good as a lose feels bad, and the good feeling doesn’t last long as the bad. Not even close. Maka kemudian yang tersisa sekarang adalah perasaan imposter syndrome dan berpikir bagaimana agar studi S2 saya jauh lebih berhasil dibandingkan saat S1 dulu.

Imposter syndrome adalah perasaan dalam diri bahwa keberhasilan yang kita capai adalah karena keburuntungan -dan bukan karena talenta atau kualifikasi yang seharusnya. Misalnya bisa saja professornya ngantuk saat menilai berkas saya. Perasaan tersebut kembali datang ketika hari sabtu lalu saya menghadiri acara graduate students formal dinner yang diadakan oleh NUS Graduate Student Society. Saya berkenalan dan ngobrol banyak dengan beberapa mahasiswa dari India dan Pakistan. Ada mahasiswa MBA yang bahasa inggrisnya mirip orang amrik meskipun ternyata dia orang pakistan, so smooth, fluent, and confident. Ada arsitek yang sudah bekerja di banyak negara seperti Dubai, London, dan Chicago, namun memutuskan untuk melanjutkan studi master di bidang urban design. Saya bertemu dengan alumni IIT Bombay -the most competitive school in India, their acceptance rate is less than 2%, even smaller than MIT- yang akan PhD di bidang Biomedical Engineering, yea I could smell his intelligence right away. Saya juga sempat berbincang dengan seorang mahasiswi PhD di bidang South East Asian Study asal India dengan background 1 bachelor dan 2 master di bidang ekonomi dan public policy. Gelar terakhirnya didapat dari London School of Economics, that’s a huge one! What is this place? Satu sisi saya senang bisa satu ruangan dan mengambil inspirasi dari orang-orang luar biasa ini, sisi lain saya berkata, do I really belong here?

Sekeras apapun saya pada diri sendiri, ternyata itu tidak akan mengubah apapun. Suka atau tidak, merasa pantas atau tidak, faktanya saya sudah terdaftar sebagai mahasiswa S2 NUS. Mulai saat ini saya harus percaya bahwa mereka juga senang dan bangga bisa kenal saya, udah yang penting percaya aja. Saya juga harus terbiasa mengabaikan perasaan imposture syndrome dan mengubahnya menjadi motivasi. Put it this way, imposture syndrome adalah pertanda bahwa kita merasa inferior terhadap orang lain. Orang yang tidak pernah merasa demikian berarti antara dia tidak pernah bertemu orang baru diluar sana, atau dia tidak lebih baik dari yang sebenarnya dia pikir. I may still have imposture moment, but not an imposture life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s